01 November, 2010

LEBARAN KELABU

Saat aku menulis ini, saat inilah aku sedang terkena penyakit nomor 2 mematikan bagi balita di Indonesia. Diare, itulah namanya. Tapi, bukan diare sekarang ini yang akan aku ceritakan, tetapi diare yang pernah aku alami 10 tahun yang lalu.

________

Bulan Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh muslim se-dunia. Bulan dimana semua keberkahan tercurah untuk kaumNya. Begitu pun denganku, saat itu aku masih duduk di kelas 4 SD. Tak urung, aku pun ikut melakukan amalan-amalan seperti yang dilakukan oleh orang tua dan kakak-kakak sepupuku. Mulai dari puasa sebulan penuh, shalat tarawih, dan sholat berjamaah di mushola dekat rumah.

Awalnya, memang terasa berat. Lama-lama juga gak berat. Dan akhirnya, aku terbiasa puasa sehari juga. Ibadah lain, yang awalnya terpaksa pun menjadi terbiasa. Memang benar kata pepatah, bisa karena biasa.

Tak terasa sebulan penuh, aku melaksanakan puasa. Tak ada yang bolong sehari pun. Duh, betapa senangnya hatiku. Sebelumnya, bapak udah pernah ngomong, kalo tahun ini aku tidak boleh bolong puasa. Ibadah-ibadah yang lain pun juga Alhamdulillah lebih baek dari tahun sebelumnya. Saat kelas 3 SD, aku malaksanakan ibadah hanya asal-asalan dan tidak khusyuk.

Hari demi hari, aku jalani seperti biasa. Tidak ada paksaan ataupun keterpaksaan dari dalam diriku. Semua aku jalani seperti hari-hari biasanya. Ibu sempat memberikan petuahnya padaku, :Nduk, yen ora kuat aja poso ndisik. Daripada kowe kelaran”. Kata-kata itu seperti masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Tidak aku hiraukan sama sekali.

Akhirnya, takbir hari raya Idul Fitri berkumandang. “Tak terasa besok udah lebaran”, gumanku. Malam ini, seperti biasanya, kami sekeluarga besar berkumpul membahas rencana silaturrahmi esok. Maklum, saudara-saudara dari Jakarta, Lampung, dan Mranggen datang semua. Jadi, butuh persiapan khusus untuk berkunjung ke tempat saudara yang lain.

Saat itu juga, bapak memberikan petuahnya kepadaku untuk tidak asal makan dan mengurangi minum sirup saat silaturrahmi ke tempat saudara-saudara. Aku hanya menganggukkan kepala saat bapak ngendiko seperti itu.

_________

Keesokan harinya, setelah sholat Ied dan sarapan, kami sekeluarga besar mulai bermaaf-maafan sebelum silaturrahmi ke tempat saudara-saudara dan tetangga. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini, silatturrahmi ke tempat saudara dan tetangga hanya dilakukan satu hari. Karena keesokan harinya, rencana berubah menjadi jalan-jalan ke air tiga rasa yang ada di Kudus.

Akan tetapi, rencana hanyalah rencana. Ternyata semua tidak berjalan dengan mulus. Malam sebelumnya, aku tidak bisa tidur, gara-gara sering ke kamar mandi. Akibat terlalu banyak makan suguhan dan minum terlalu banyak sirup, membuat perutku tidak tahan. Lambung yang semula tertampung makanan secukupnya menjadi terlalu banyak tertampung makanan. Alhasil, diare tercipta.

Gara-gara tidak menuruti petuah bapak dan terlalu menuruti hawa nafsu. Aku terkena imbasnya. Mulai sekarang aku harus mematuhi setiap perkataan orang tua. Karena setiap perkataan yang dikatakan orang tua kepada anaknya pasti memberi pesan yang baik. Orang tua tidak akan memberi petuah yang buruk kepada anaknya. Dan perkataan orang tua merupakan doa untuk anak-anaknya.

26 Oktober 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar