12 November, 2010

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI

CAMPAK

a.      Penyelidikan Epidemiologi

Tahap pertama, survey daerah yang terkena wabah campak. Lalu, mengumpulkan data tentang siapa saja yang diduga terkena campak. Kemudian menyelidiki apakah gejala-gejala tersebut benar-benar campak. Gejala-gejala campak tersebut adalah Gejala bermula 10 – 12 hari selepas terdedah dengan pesakit, Gejala awal adalah seperti hidung berair, batuk, hidung tersumbat, mata merah, sakit otot , sensitif terhadap cahaya dan demam. Selepas 2 hingga 4 hari gejala tadi, ruam badan dan tompokan putih di dalam mulut mula timbul.Ruam bermula di kepala dan merebak ke bagian lain, berkembang ke bawah dan bersatu antara satu sama lain. Ia akan beransur hilang dalam masa 4 hari sebagaimana tempoh ia berlaku.1Dan menelusuri apakah kejadian tersebut termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB) atau bukan, dengan asumsi bahwa campak telah menjangkuti separo penduduk di daerah tersebut.

 

b.      Tindak Lanjut

Campak harus segera didiagnosa secara dini (early diagnosis) dan segera ditanggulangi (out break respons) agar tidak meluas dan membatasi jumlah kasus dan kematian.

Cara yang bisa dipakai:

·         pengobatan simtomatis pada kasus

·         pengobatan dengan antibiotika bila terjadi komplikasi

·         pemberian vitamin A dosis tinggi

·         perbaikan gizi

·          meningkatkan cakupan imunisasi campak/ring vaksinasi (program cepat,sweeping) pada desa-desa risiko tinggi.

c.       Pencegahan

·         Pencegahan Tingkat Awal (Priemordial Prevention)

Pencegahan tingkat awal berhubungan dengan keadaan penyakit yang masih dalam tahap prepatogenesis atau penyakit belum tampak yang dapat dilakukan dengan memantapkan status kesehatan balita dengan memberikan makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

·         Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)

Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mencegah seseorang terkena penyakit campak, yaitu :

a.      Memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya pelaksanaan imunisasi campak untuk semua bayi.

b.       Imunisasi dengan virus campak hidup yang dilemahkan, yang diberikan pada semua anak berumur 9 bulan sangat dianjurkan karena dapat melindungi sampai jangka waktu 4-5 tahun.

·         Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)

Pencegahan tingkat kedua ditujukan untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan demikian pencegahan ini sekurang-kurangnya dapat menghambat atau memperlambat progrefisitas penyakit, mencegah komplikasi, dan membatasi kemungkinan kecatatan, yaitu :

a.       Menentukan diagnosis campak dengan benar baik melalui pemeriksaan fisik atau darah.

b.       Mencegah perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan masuk sekolah selama empat hari setelah timbulnya rash. Menempatkan anak pada ruang khusus atau mempertahankan isolasi di rumah sakit dengan melakukan pemisahan penderita pada stadium kataral yakni dari hari pertama hingga hari keempat setelah timbulnya rash yang dapat mengurangi keterpajanan pasien-pasien dengan risiko tinggi lainnya.

c.       Pengobatan simtomatik diberikan untuk mengurangi keluhan penderita yakni antipiretik untuk menurunkan panas dan juga obat batuk. Antibiotika hanya diberikan bila terjadi infeksi sekunder untuk mencegah komplikasi.

d.      Diet dengan gizi tinggi kalori dan tinggi protein bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh penderita sehingga dapat mengurangi terjadinya komplikasi campak yakni bronkhitis, otitis media, pneumonia, ensefalomielitis, abortus, dan miokarditis yang reversibel.

Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)

Pencegahan tingkat ketiga bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada pencegahan tertier yaitu :

a. Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak.

b. Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turun secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan imunitas mereka.

 

MALARIA

a.      Penyelidikan Epidemiologi

Tahap pertama, survey daerah yang terkena wabah malaria. Misalnya, RT/RW berapa? Kemudian mengumpulkan data siapa saja yang diduga terkena malaria. Menyelidiki apakah wabah tersebut benar-benar merupakan wabah malaria dengan gejala:

-         Demam secara berkala

-         Menggigil

-         Berkeringat

-         Sakit kepala

-       Sering disertai dengan gejala khas daerah ( diare pada balita sakit atau sakit otot pada orang dewasa ).2

Jika pada tahun-tahun sebelumnya sudah terdapat kejadian malaria, berarti penyakit di daerah tersebut merupakan penyakit malaria dan daerah tersebut merupakan daerah endemis malaria. Jika kejadian tersebut terjadi baru kali ini dan menjangkiti banyak orang, maka kejadian tersebut dinamakan Kejadian Luar Biasa. Dengan asumsi bahawa gejala tersebut benar-benar termasuk gejala penyakit malaria.

Pada penyelidikan kali ini harus benar-benar dilakukan pencarian penderita dengan memeriksa jentik-jentik nyamuk yang mengandung parasit Plasmodium dengan radius sekurang-kurangnya 100 meter, serta tempat-tempat yang diduga sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk Anopheles. Selain itu, menyelidiki juga kebiasaan warga yang terkena malaria dengan mengisi kuisioner yang telah dibuat.

 

b.      Tindak Lanjut

 

Jika ditemukan jentik-jentik nyamuk Anopheles, maka segera dilakukan:

·         Penyuluhan 3M plus

·         Larvasidasi

·         Pengasapan/fogging focus

Jika tidak ditemukan jentik-jentik nyamuk, maka hanya dilakukan kegiatan penyuluhan 3 M plus.

 

c.       Pencegahan

Upaya pencegahan difokuskan pada pengurangan penularan penyakit dengan cara mengendalikan nyamuk pembawa malaria. Dua intervensi utama untuk mengendalikan vector:

• Gunakan kelambu dengan insektisida tahan lama, merupakan cara yang efektif dan murah

• Penyemprotan insektisida dalam ruangan.

Upaya ini dapat didukung dengan metode pengendalian nyamuk lain (sebagai contoh, memusnahkan genangan air tempat nyamuk berkembang biak).

 

TB PARU

a.      Penyelidikan Epidemiologi

Tahap pertama, yaitu mensurvey daerah mana yang terkena infeksi Mycobacterium tuberculosis. Kemudian mendata siapa saja yang terkena bakteri tersebut. Dan menyelidiki apakah gejala tersebut benar-benar merupakan gejala penyakit TB paru. Gejala TB paru adalah:

·         Batuk lebih dari tiga minggu

·         Batuk berdahak

·         Sakit di dada selama lebih dari tiga minggu

·         Demam selama lebih dari tiga minggu

·         Terasa sesak sewaktu bernapas3

 

Jika kejadian tersebut menjangkiti banyak orang, berarti kejadian tersebut merupakan Kejadian Luar Biasa (KLB).

Pada penyelidikan ini, juga harus dibantu oleh tim ahli medis yang berfungsi untuk memeriksa apakah orang tersebut benar-benar terkena penyakit TB paru. Selain itu, juga mengadakan kuisioner tentang kebiasaan warga yang terkena penyakit TB paru.

 

b.      Tindak Lanjut

Jika ditemukan bakteri Mycobacterium tuberculosis pada warga di daerah tersebut, maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:

·         Karantina orang yang terkena TB paru

·         Penggunaan masker bagi warga-warga yang belum terkena TB paru

·         Pemberian vaksin BCG bagi balita

·         Penyuluhan tentang bahaya TB paru

 

c.       Pencegahan

Tindakan pencegahan dapat dikerjakan oleh penderita, masyarakat dan petugas

kesehatan.

1. Status sosial ekonomi rendah yang merupakan faktor menjadi sakit, seperti kepadatan hunian, dengan meningkatkan pendidikan kesehatan.

2. Tersedia sarana-sarana kedokteran, pemeriksaan penderita, kontak atau suspect gambas, sering dilaporkan, pemeriksaan dan pengobatan dini bagi penderita, kontak,

suspect, perawatan.

3. Pengobatan preventif, diartikan sebagai tindakan keperawatan terhadap penyakit inaktif dengan pemberian pengobatan INH sebagai pencegahan.

4. BCG, vaksinasi, diberikan pertama-tama kepada bayi dengan perlindungan bagi ibunya dan keluarhanya. Diulang 5 tahun kemudian pada 12 tahun ditingkat tersebut berupa tempat pencegahan.

5. Memberantas penyakti TBC pada pemerah air susu dan tukang potong sapi, dan

pasteurisasi air susu sapi.

6. Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis karean menghirup udara yang tercemar debu para pekerja tambang, pekerja semen dan sebagainya.

7. Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan gejala tbc paru.

8. Pemeriksaan screening dengan tubercullin test pada kelompok beresiko tinggi, seperti para emigrant, orang-orang kontak dengan penderita, petugas dirumah sakit,

petugas/guru disekolah, petugas foto rontgen.

9. Pemeriksaan foto rontgen pada orang-orang yang positif dari hasil pemeriksaan tuberculin test.

 

KEMATIAN IBU

a.      Penyelidikan Epidemiologi

Tahap pertama yang harus dilakukan adalah mensurvey daerah tertentu, kemudian mencari data ibu yang meninggal saat melahirkan ataupun setelah melahirkan (saat masa nifas). Selanjutnya, mendata apakah kematian ibu tersebut karena perdarahan, eklamsi, atau karena infeksi.

Jika yang mengalami kematian ibu pada daerah tersebut banyak, maka termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB) pada daerah tersebut.

 

b.      Tindak Lanjut

Jika yang mengalami kematian ibu banyak, maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:

·         Penyuluhan kepada ibu hamil

·         Pemberian pelayanan kesehatan kepada ibu-ibu yang melahirkan

 

c.       Pencegahan

Tindakan pencegahan dapat dilakukan oleh ibu hamil ataupun oleh tenaga medis, antara lain:

·         Pemberian makanan tambahan kepada ibu hamil

·         Menghindari penggunaan obat-obatan pada triwulan 1

·         Menghindari terpaparnya sinar radioaktif

LAHIR MATI/ KEMATIAN BALITA

a.      Penyelidikan Epidemiologi

Tahap pertama yang harus dilakukan dalam penyelidikan epidemiologi adalah mensurvey daerah yang diduga mengalami kematian balita terbanyak, kemudian menyelidiki apakah kematian balita tersebut karena cacat dari lahir, tali pusat terjatuh (prolaps), ataupun karena keadaan ibu saat melahirkan. Jika daerah tersebut terdeteksi banyak yang mengalami kematian balita, maka kejadian tersebut termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB)

 

b.      Tindak Lanjut

Jika kejadian kematian balita termasuk Kejadian Luar Biasa, maka perlu dilakukan:

·         Penyuluhan kehamilan bagi ibu hamil

Penyuluhan ini berisi:

ü  Pelarangan ibu hamil untuk mengkonsumsi alcohol, narkoba, ataupun merokok

ü  Konsumsi gizi seimbang

·         Pemberian pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan ibu melahirkan

 

c.       Pencegahan

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya lahir mati/kematian balita adalah:

·         Pelayanan kesehatan yang memadai bagi ibu hamil

·         Pemberian Bahan Makanan Tambahan bagi ibbu hamil

Referensi

1Campak, http://www.infosihat.gov.my/penyakit/Dewasa/Campak.pdf diakses pada tanggal 8 November 2010

2Malaria, http://www.malukuprov.go.id/index.php/kesehatan/47-kesehatan/65-malaria diakses pada tanggal 8 November 2010

3TB Paru, ,  http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani6.pdf diakses pada tanggal 8 November 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar