21 Maret, 2011

DIPTERI

Difteri adalah penyakit akut yang mengancam nyawa yang disebabkan Corynebacterium diphtheria. Dan merupakan salah satu penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).. Dipteri ini disebabkan oleh: Corynebacterium diphtheriae, dikenal dua macam Corynebacterium diphtheriae, yaitu:
a. Toxigenic Corynebacterium diphtheriae
b. Non-tixigenic Corynebacterium diphtheria

Epidemiologi
Penularan terjadi melalui kontak dengan penderita maupun carrier. Bayi baru lahir biasanya membawa antibodi secara pasif dari ibunya yang biasanya akan hilang pada usia sebelum 6 bulan. Di Indonesia penderita difteri 50% meninggal dengan gagal jantung. Kejadian luar biasa penyakit ini dapat terjadi terutama pada golongan umur rentan yaitu bayi dan anak bila keadaan lingkungan menjadi lebih buruk.
Penyebabnya adalah bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang berasal dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Biasanya bakteri berkembangbiak pada atau di sekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan. Beberapa jenis bakteri ini menghasilkan toksin yang sangat kuat, yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan otak.
Keberadaan sumber penularan dalam hal ini adalah seorang penderita difteri atau seseorang yang telah terkena bakteri difteri tanpa menunjukkan gejala sakit difteri memberikan risiko penularan difteri 20,821 kali dibandingkan bila tidak ada sumber penularan. Selain itu, ibu yang mempunyai pengetahuan rendah tentang imunisasi dan difteri memberikan peluang terjadinya difteri pada anak-anak mereka sebanyak 9,826 kali dibandingkan dengan ibu yang mempunyai pengetahuan tinggi tentang imunisasi dan difteri.
Lingkungan Rumah :
1. Pencahayaan alami dalam rumah berupa keberadaan sinar matahari masuk dalam rumah tidak berhubungan dengan kejadian difteri.
2. Luas ventilasi rumah tidak berhubungan dengan kejadian difteri.
3. Tinggal di rumah dengan kepadatan hunian ruang tidur yang tidak memenuhi syarat (< 4 m²/org) berisiko tertular difteri 15,778 kali dibandingkan dengan tinggal di rumah yang kepadatan hunian ruang tidurnya memenuhi syarat (≥ 4 m²/org).
4. Suhu dalam rumah tidak berhubungan dengan kejadian difteri.
5. Tinggal di rumah dengan kelembaban yang tidak memenuhi syarat (< 40%RH atau > 70%RH) berisiko terjadinya difteri 18,672 kali dibandingkan tinggal di rumah dengan kelembaban yang memenuhi syarat (40% – 70%).
6. Jenis dinding rumah tidak berhubungan dengan kejadian difteri.
7. Rumah dengan jenis lantai berupa papan atau panggung meningkatkan risiko terjadinya difteri sebesar 22,029 kali dibandingkan rumah dengan jenis lantai berupa plesteran atau keramik.

Etiologi
Corynebacteria adalah Gram-positif, aerobik, nonmotile, bakteri berbentuk batang diklasifikasikan sebagai Actinobacteria. Corynebacteria terkait filogenetis untuk mikobakteri dan actinomycetes. Mereka tidak membentuk spora atau cabang seperti melakukan actinomycetes, tetapi mereka memiliki karakteristik membentuk tidak teratur, pengaturan klub berbentuk atau V-berbentuk dalam pertumbuhan normal. Mereka menjalani gertakan gerakan setelah pembelahan sel, yang membawa mereka ke dalam bentuk karakteristik menyerupai huruf Cina atau pagar.
Genus Corynebacterium terdiri dari berbagai kelompok bakteri dan patogen tumbuhan termasuk hewan, serta saprophytes. Corynebacteria Beberapa bagian dari flora normal manusia, menemukan ceruk yang cocok di hampir setiap situs anatomis, terutama kulit dan nares. Yang paling dikenal dan paling banyak dipelajari spesies Corynebacterium diphtheriae, agen penyebab dari penyakit difteri.

Penanggulangan
Penyakit difteri dapat dicegah dengan imunisasi DPT pada bayi umur kurang dari satu tahun sebanyak 3 kali; meningkatkan gizi penderita; mencegah penderita tidak keluar rumah, sekolah,]bermain selama kurang lebih 5 hari; mengawasi dan melakukan pemerikasaan laboratorium terhadap orang yang kontak dengan penderita selama 2 kali masa inkubasi; dan penyuluhan.
Semua orang yang berhubungan dengan penderita difteri (termasuk petugas rumah sakit) harus menjalani pemeriksaan apus tenggorokan. Sebagai tindakan pencegahan, diberikan antibiotik selama 7 hari. Jika belum pernah mendapatkan vaksinasi atau belum mendapatkan booster dalam 5 tahun terakhir, maka diberikan dosis vaksinasi atau dosis booster. Seorang karier (hasil biakan positif, tetapi tidak menunjukkan gejala) dapat menularkan difteri, karena itu diberikan antibiotik dan dilakukan pembiakan ulang pada apus tenggorokannya.

Sumber:
Benenson Abram S. Control of Communicable Disease in Man, 14th ed.
Washington DC: The American Public Health Association. 1985.
Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah. 2005. Prosedur Tetap Penanganan KLB dan Bencana Propinsi Jawa Tengah. Semarang : Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah.
http://www.textbookofbacteriology.net/diphtheria.html
http://www.indonesiaindonesia.com/f/12817-difteri/
Subdit Imunisasi, Dit. Epim -Kesma. Dit Jen PPM-PL. Program Imunisasi
di Indonesia. Jakarta 2004.

FKM UNDIP
UNDIP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar