18 Maret, 2011

Typus Abdominalis/Typhoid

Typus Abdominalis adalah penyakit infeksi yang menyerang saluran pencernaan yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhosa dengan masa inkubasi 10-14 hari, ditandai dengan demam, mual, muntah, sakit kepala, nyeri perut.

Epidemiologi

Penyebaran Geografis dan Musim

Kasus-kasus demam tifoid terdapat hampir di seluruh bagian dunia. Penyebarannya tidak bergantung pada iklim maupun musim. Penyakit itu sering merebak di daerah yang kebersihan lingkungan dan pribadi kurang diperhatikan.

 

Penyebaran Usia dan Jenis Kelamin

Siapa saja bisa terkena penyakit itu tidak ada perbedaan antara jenis kelamin lelaki atau perempuan. Umumnya penyakit itu lebih sering diderita anak-anak. Orang dewasa sering mengalami dengan gejala yang tidak khas, kemudian menghilang atau sembuh sendiri. Persentase penderita dengan usia di atas 12 tahun seperti bisa dilihat pada tabel di bawah ini.

Usia Persentase

12 – 29 tahun 70 – 80 %

30 – 39 tahun 10 – 20 %

> 40 tahun 5 – 10 %

 

Etiologi

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella Typhosa, Eberhella typhosa yang merupakan kuman negatif, motif, dan tidak menghasilkan spora . Kuman ini hidup baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah sedikit serta mati pada suhu 700C maupun antiseptik. Sampai saat ini diketahui bahwa kuman ini hanya menyerang manusia.

Salmonella typhosa mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen, yaitu antigen O (Ohne Hauch), yaitu somatic antigen (tidak menyebar), terdiri dari zat kompleks lipopoli sakarida. Antigen H (Hauch/menyebar) terdapat pada flagella. Antigen Vi merupakan polisakarida kapsul verilen. Ketiga jenis antigen tersebut di dalam tubuh manusia akan menimbulakan pembentukan tiga antibody yang lazim disebut aglatinin.

Mekanisme Penularan

Bakteri Salmonella typhi masuk ke dalam saluran pencernaan dan bisa masuk ke dalam peredaran darah. Hal ini akan diikuti oleh terjadinya peradangan pada usus halus dan usus besar. Pada kasus yang berat, yang bisa berakibat fatal, jaringan yang terkena bisa mengalami perdarahan dan perforasi (perlubangan).

 

Cara Penanggulangan

Vaksin tifus per-oral (ditelan) memberikan perlindungan sebesar 70%, namun vaksin ini hanya diberikan kepada orang-orang yang telah terpapar oleh bakteri Salmonella typhi dan orang-orang yang memiliki resiko tinggi (termasuk petugas laboratorium dan para pelancong).

Vaksinasi dengan menggunakan vaksin T.A.B (mengandung basil tifoid dan paratifoid A dan B yang dimatikan ) yang diberikan subkutan 2 atau 3 kali pemberian dengan interval 10 hari merupakan tindakan yang praktis untuk mencegah penularan demam tifoid Jumlah kasus penyakit itu di Indonesia cukup tinggi, yaitu sekitar 358-810 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Suntikan imunisasi tifoid boleh dilakukan setiap dua tahun manakala vaksin oral diambil setiap lima tahun. Bagaimanapun, vaksinasi tidak memberikan jaminan perlindungan 100 peratus.

Menghindar makan sayuran mentah dan makanan lainnya yang disajikan atau disimpan di dalam suhu ruangan dan pilih makanan yang masih panas atau makanan yang dibekukan, minuman kaleng dan buah berkulit yang bisa dikupas.

 

Referensi

Ranjan L.Fernando et al. Tropical Infectious Diseases Epidemiology, Investigation, Diagnosis and Management, London, 2001;45:270-272

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/103/jtptunimus-gdl-dianrosian-5148-2-bab2.pdf

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/107/jtptunimus-gdl-wahyunengs-5324-2-bab2.pdf

http://www.jevuska.com/2008/05/10/demam-tifoid-typhoid-fever


FKM

UNDIP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar